John Doe adalah nama samaran pria
yang baru saja pulang pelesiran di Bali itu. Selama sepekan ia
berfoya-foya di Pulau Dewata bersama seorang teman wanitanya. Kini ia
dalam perjalanan ke tempat persembunyiannya di Sumatera. Bersiap
kembali untuk berjam-jam terpapar radiasi monitor komputernya, mencari
duit di dunia maya. Pria berkepala plontos ini bukan pakar peranti
lunak komputer. Bukan pula anak konglomerat, yang menghabiskan
waktunya berselancar di Internet. John, 26 tahun, bahkan tak sempat
menyelesaikan kuliahnya karena putus di tengah jalan. Saya doyan
membobol akun orang lain, katanya kepada Tempo, Jumat lalu. Hampir
setiap hari aktivitas John diisi dengan membobol akunakun catatan
identitas pelanggan suatu layanan di Internet. Ia spesialis pembobol
akun seperti e-mail, Facebook, dan PayPal. Ia juga menjual barang
fiktif di situs-situs yang menyediakan jasa penjualan, semacam eBay,
dan situs lain. Dari aktivitasnya ini, setidaknya penghasilan US$
1.000 per minggu ia bukukan.
Untuk berwisata ke Bali itu, ia
baru saja sukses menjual kapal layar fiktif kepada seorang pembeli di
Kanada. Jumlah transaksinya bukan main, US$ 15 ribu masuk ke
rekeningnya. Sedangkan pembeli hanya gigit jari karena kapal impian
tak pernah sampai ke tujuan pengiriman. Uangnya habis untuk jajan dan
foya-foya, kata John sambil tertawa.
Sementara John senang, Jajang C. Noer
berbeda 180 derajat. Hingga hari ini, ia masih merasa jengkel karena
seseorang telah membobol akun Yahoo Messenger miliknya. Perempuan
yang banyak bergelut di dunia teater ini mengaku sebenarnya dia
antikekerasan. Untuk yang ini, kalau pelakunya ketemu, akan saya
tonjok mukanya, katanya dengan nada jengkel. Jajang memang pantas
marah. Akibat pembobolan itu, ia merasa namanya dicemarkan. Betapa
tidak, pelaku yang menyamar sebagai dirinya meminta uang kepada
teman-temannya yang tercantum di daftar
kontak
YM-nya. Salah satu korban, Butet Kartaredjasa, malah langsung
mentransfer Rp 2 juta ke rekening yang diberikan tanpa meminta
konfirmasi kepada Jajang terlebih dulu. Beruntung, uang tersebut
sudah dikembalikan si pemilik rekening. E-mail dan akun Facebook
saya juga sudah tidak bisa saya gunakan lagi, kata Jajang.
Kejadian ini bermula pada subuh 27
Maret lalu. Saat itu Jajang di rumahnya sedang bermain Scrabble online
di Facebook. Ia juga menyalakan YM miliknya. Mendadak ia menerima
pesan dari Yanti Noer, istri Chrisye (almarhum). Ia menyebutkan,
bahasa pesan itu seperti bahasa orang Indonesia sehari- hari. Bukan
bahasa terjemahan. Ia bertanya di mana saya dibesarkan saat masih
kecil, saya jawab di Jalan Teluk Betung (Jakarta Pusat), katanya.
Karena berfokus bermain Scrabble, Jajang tidak mengacuhkan pesan dari
Yanti itu. Tapi dari situlah ternyata semua bencana ini berawal.
Ternyata akun YM Yanti itu juga sudah dibobol oleh orang lain. Si
pembobol menanyakan soal daerah Jajang dibesarkan karena berkaitan
dengan pertanyaan kunci di akun Yahoomail miliknya. Teluk Betung itu
memang jawaban untuk kalimat kunci jika lupa password e-mail saya,
katanya. Setiap akun e-mail selalu menyertakan pertanyaan kunci untuk
berjaga-jaga bila pemilik lupa kata sandi untuk masuk ke e-mail.
Pertanyaannya bisa macam-macam. Dari pertanyaan nama hewan
kesayangan, nama guru, hingga makanan yang disukai. Setelah berhasil
menjawab pertanyaan kunci, administrator layanan e-mail akan mengirim
kata sandi baru.
Tapi, menurut John, cara itu cara
amatiran, yang biasa digunakan oleh orang yang tak paham selukbeluk
program peranti lunak komputer. Modalnya hanya alamat email sambil
mencoba menebaknebak kata kunci. Pelakunya ini biasanya anak-anak
baru gede atau baru belajar jadi hacker, kata John. John menyatakan
ada banyak cara untuk membobol e-mail orang lain. Pertama, bermodal
alamat e-mail yang biasa terpampang di situs-situs jejaring sosial,
seperti Facebook,Twitter, atau blog pribadi. Caranya menebak kata
kunci akun. Kata kunci (masuk) ke akun biasanya tak jauh dari tanggal
lahir, nama, atau data pribadi pemilik email, kata John. Cara kedua
adalah phishing. Ini adalah metode mencuri data pengguna beserta
kata kunci dengan membuat halaman situs web palsu. Halaman ini
biasanya mirip situs yang kerap dibuka seorang pengguna Internet.
Facebook, Twitter, dan eBay sudah berkali-kali dikerjai dengan metode
semacam ini. Biasanya phishing muncul saat pengguna salah mengetikkan
alamat halaman situs yang dimaksud, atau peretas menyusup ke server
Internet
Cara ketiga, ini yang paling banyak
digunakan peretas, adalah membobol data administrator sebuah situs
web. Metodenya bisa banyak. Bisa lewat program khusus semacam Comersus
dan SQL Injection. Program ini tersebar di berbagai situs dan bisa
diperoleh secara gratis. Tapi cara ini sudah terlalu umum,sudah
banyak yang menggunakan, kata John. Di dalam dunia bobol-membobol,
kata John, terdapat persaingan, meski untuk satu hal mereka
bahumembahu membentuk sindikat. Ada yang bertugas sebagai pembobol
dan negosiator dengan penjual. Negosiator ini mesti mahir berbahasa
Inggris. Sebab, pembeli yang biasanya dari luar negeri banyak bertanya
tentang produk itu lewat telepon. Ada lagi yang bertugas sebagai
pencair, yaitu memiliki rekening di dalam negeri dan luar negeri. Uang
penjualan akan dibagi-bagi sesuai peran masing-masing, kata John.
Persaingan biasanya dalam hal adu banyak mendapatkan data pribadi
orang lain dan membobol situs. Setiap peretas, kata John,punya trik
berbeda-beda. Bila mereka berhasil membobol situs tertentu, mereka tak
akan memberi tahu yang lain. Sebab, bila cara yang sama digunakan,
akan diketahui oleh pengelola situs itu. Kalau sudah ketahuan,
hilanglah rezeki, katanya. Karena itu, John punya metode sendiri. John
sempat menuntun Tempo membobol e-mail seseorang. Langkah pertama yang
ia lakukan adalah mencari situs yang memiliki pagar lemah. Cara
mengetahui situs dengan proteksi lemah itu, John hanya tinggal
memasukkan karakter khusus yang hanya ia ketahui sendiri. Dengan
kunci ini, Google akan membisikkan kita situs tersebut mudah
dibobol, katanya.
Saat percobaan itu, Google
menyebutkan sebuah situs klub menembak memiliki pagar yang lemah
terhadap database-nya. Situs tersebut kemudian diklik. John
menambahkan cgi-bin/classifieds/data/ ads.log di belakang nama
situs, lalu menekan Enter, maka keluarlah sederetan kombinasi angka,
huruf, dan tanda baca dalam format program pengolah kata Notepad. Dari
situ sudah terpampang seluruh alamat dan password si pengguna
situs. Alamat e-mail dan password user tersembunyi di balik
kombinasi teks ini, John menerangkan. Data itu, kata John, masih
dalam format bahasa program. Kemudian diubah formatnya dengan metode
enkripsi. Hasil enkripsi akan diterjemahkan. Inilah password si user.
Password itu biasanya sama dengan password yang digunakan untuk email
pribadi. E-mail ini, kata John, biasanya menjadi e-mail utama
seseorang untuk membuka akun lain di Facebook, Twitter, atau situs
lain. Jika pengguna Facebook ini ikut permainan Zynga Texas HoldEm
Poker, John akan mencuri chip Poker-nya. Chip itu kemudian dijual
kepada orang lain. Atau ia mencuri data PayPal atau kartu kreditnya.
Lalu digunakan untuk berbelanja atau mentransfer uang ke rekening
sindikat mereka. Kalau sudah paham, akan bikin ketagihan untuk
menjebol akun orang lain, katanya. Apalagi ia diberkati dengan
ketekunan berlebih ketimbang orang lain. John mengakui Google banyak
membantu. Pelajaran soal meretas beserta program peranti lunaknya juga
tersedia di dunia maya. Tinggal ketikkan kata-kata tertentu, semua
akan disajikan Google, kata John.
Dosen teknologi Internet dari
Universitas Indonesia, Irwansyah, menyebutkan, para peretas memang
jeli memanfaatkan Google untuk membantu membobol situs dan akun orang
lain. Saat ini para peretas bahkan sudah berani terangterangan
menampakkan dirinya dengan membentuk komunitas di dunia maya. Mereka
adalah penjahat intelektual kerah hitam, yang berani melakukan
aksinya secara terang-terangan, kata Irwansyah. Di sisi lain,
Irwansyah menyalahkan pemilik akun dan pengelola situs. Pemilik akun,
katanya, biasa menggunakan kata kunci yang sama untuk semua akun
pribadi di berbagai situs. Dan menggunakan kombinasi yang sangat mudah
ditebak orang lain. Pengguna Internet biasanya malas mengingat
banyak kata kunci, katanya. Pemilik situs juga bersalah, kata
Irwansyah, karena tidak memiliki pagar yang baik untuk menjaga
database pengguna situsnya. Untuk membuat pagar yang baik memang
dibutuhkan biaya.Tapi alasan ini tidak bisa dipakai untuk mengurangi
pengamanan situs mereka. Metode yang dilakukan hacker selalu
diperbarui dan semakin canggih, katanya. Selain itu, pemerintah
tampaknya tidak bisa berbuat banyak. Kepala Pusat Komunikasi
Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S. Dewa Broto
menyebutkan, untuk menegakkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi
Internet saja mereka mendapat perlawanan dari komunitas dunia maya.
Padahal mereka sudah memiliki lembaga ID-SIRTII, yang mampu melacak
kejahatan-kejahatan semacam ini. Kami tidak bisa menindak, hanya
polisi yang bisa melakukannya, katanya. Sementara itu,Kepala Divisi
Humas Markas Besar Kepolisian RI Inspektur Jenderal Edward Aritonang
mengatakan pihaknya serius menangani kasus-kasus semacam
ini.Kepolisian juga berusaha mencari dan menangkap para pembobol
lewat unit Cyber Crime. Kami tidak pernah main-main untuk kasus-kasus
di Internet ini, katanya lewat sambungan telepon Kamis lalu. Karena
ketatnya pengawasan ini, John sering main kucing-kucingan dengan
polisi. Salah satunya dengan sering menghapus jejak saat beraktivitas
di dunia maya. Semua rekening pribadinya menggunakan alamat palsu. Ia
juga sering mengganti nomor teleponnya. Ia mengaku trauma karena
pernah ditangkap, lalu diperas oleh seorang oknum polisi